Selasa, 04 Desember 2012

Conditional Sentence

Diposting oleh Unknown di 18.41 0 komentar


Magical World

          In the story of  Harry Potter, we can use magic wand to change the things that we want. If I had a magic wand, I would help people who need help and although I am a Muggle (a muggle is a person who is born into a non-magical family and is incapable of magic) I will not give in to continue studying witchcraft.
I want to school in Hogwarts school. If  I could go to school at Hogwarts, I would be a wizard like Harry Potter. I'm going to experiment and try some of the magic that I had learned and make potions as did Hermione, Ron and Harry. I will be famous and make friends with Harry Potter and we will solve the problems together. Would be very nice school at Hogwarts and live in an amazing magical world and do something you have never imagined. Could see the moving staircase, paintings could talk, items can be floated, broom that can fly, the invisibility cloak, amazing map and unique spells.
 If I had a magic wand, I would reply all of the people who do evil to me. They will be afraid and will not disturb me. I will not forgive them and have always disturb them until they are cured. If  they are nice to me, I will be happy and forget the deeds  they had done. If I were a Muggle, I would like a smart Hermione, she likes to read books to add her knowledge and try something new. She will help Harry Potter and always accompany Harry. If I were Hermione, I would always meet Harry. Wow!!  it was great fun. As we know Harry is a brave boy and always beat their enemies without fear. It is very amazing. And I would challenge my enemies with magic that I have.
Possible that it could be happen and if only there was magic school like Hogwarts, I would be the first student applicants and everyone wants to school in there. But it is not easy to school in Hogwart, we must have a good grades and this competition is very tight. People who do not have the academic ability will not be received.

I think JK Rowling is a very imaginative writer, she could imagine the impossible becomes real and the reader can imagine as if real. If I could be like JK Rowling's I would be famous and praised many people with my novels  and to inspire many people. Though the novel ever rejected by publishers, she did not despair. As a result she became the richest writer in the world.

 Harry Potter books have been translated into various languages ​​of the world, including Indonesia and her novel is the best seller in the world. Sold more than 325 million copies and the audience is not only children but also adults like to read novels Harry Potter. Not just novels, Harry Potter also made films and the audience does not get bored watching Harry Potter movies even though they had read the novel.

ASI Eksklusif

Diposting oleh Unknown di 18.39 0 komentar


  1. RUMUSAN MASALAH.
1.      Apa penyebab ASI ekslusif tidak diberikan saat umur bayi 0- 6 bulan?
2.      Faktor-faktor apa yang mempengaruhi produksi ASI Ekslusif?
3.      Apa yang di lakukan oleh pemerintah mengenai pemberian ASI eksklusif pada bayi umur 4 – 6 bulan?
4.      Apakah program pemerintah untuk meningkatkan pemberian ASI eksklusif pada bayi telah berjalan dengan baik?
5.      Apa yang akan  di lakukan oleh sarjana kesehatan masyarakat jika menjadi Kepala Puskesmas agar ibu mengetahui pentingnya ASI eksklusif?

PEMBAHASAN
1.       Penyebab ASI Ekslusif tidak diberikan
ASI merupakan makanan alamiah yang pertama dan utama bagi bayi baru lahir. ASI dapat memenuhi kebutuhan bayi akan energi dan gizi selama 4-6 bulan pertama kehidupannya, sehingga dapat mencapai tumbuh kembang yang optimal. Selain sebagai sumber energi dan zat gizi, pemberian ASI juga merupakan media untuk menjalin hubungan psikologis antara ibu dan bayinya. Hubungan ini akan menghantarkan kasih sayang dan perlindungan ibu kepada bayinya serta memikat kemesraan bayi terhadap ibunya, sehingga terjalin hubungan yang harmonis dan erat.
Banyak hal yang menyebabkan ASI Ekslusif tidak diberikan khususnya bagi ibu-ibu di Indonesia, hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh :
a. Adanya perubahan struktur masyarakat dan keluarga. Pengaruh orang tua seperti nenek, kakek, mertua dan orang terpandang dilingkungan keluarga secara berangsur menjadi berkurang, karena mereka itu umumnya tetap tinggal di desa sehingga pengalaman mereka dalam merawat makanan bayi tidak dapat diwariskan.
b. Kemudahan-kemudahan yang didapat sebagai hasil kemajuan teknologi pembuatan makanan bayi seperti pembuatan tepung makanan bayi, susu buatan bayi, mendorong ibu untuk mengganti ASI dengan makanan olahan lain.
c.   Iklan yang menyesatkan dari produksi makanan bayi menyebabkan ibu beranggapan bahwa makanan-makanan itu lebih baik dari ASI
d.   Para ibu sering keluar rumah baik karena bekerja maupun karena tugas-tugas sosial, maka susu sapi adalah satu-satunya jalan keluar dalam pemberian makanan bagi bayi yang ditinggalkan dirumah.
e.   Adanya anggapan bahwa memberikan susu botol kepada anak sebagai salah satu simbol bagi kehidupan tingkat sosial yang lebih tinggi, terdidik dan mengikuti perkembangan zaman.
f.    Ibu takut bentuk payudara rusak apabila menyusui dan kecantikannya akan hilang.
g.   Pengaruh melahirkan dirumah sakit atau klinik bersalin. Belum semua petugas paramedis diberi pesan dan diberi cukup informasi agar menganjurkan setiap ibu untuk menyusui bayi mereka, serta praktek yang keliru dengan memberikan susu botol kepada bayi yang baru lahir.
h.  Sering juga ibu tidak menyusui bayinya karena terpaksa, baik karena faktor intern dari ibu seperti terjadinya bendungan ASI yang mengakibatkan ibu merasa sakit sewaktu bayinya menyusu, luka-luka pada putting susu yang sering menyebabkan rasa nyeri, kelainan pada putting susu dan adanya penyakit tertentu seperti tuberkolose, malaria yang merupakan alasan untuk tidak menganjurkan ibu menyusui bayinya.
i.    Disamping itu juga karena faktor dari pihak bayi seperti bayi lahir sebelum waktunya (prematur) atau bayi lahir dengan berat badan yang sangat rendah yang mungkin masih telalu lemah apabila mengisap ASI dari payudara ibunya, serta bayi yang dalam keadaan sakit.
j.     Kurangnya pengertian dan pengetahuan ibu tentang manfaat ASI dan menyusui menyebabkan ibu - ibu mudah terpengaruh dan beralih kepada susu botol (susu formula).  

2.       Faktor-faktor yang mempengaruhi Produksi ASI

Adapun hal-hal yang mempengaruhi produksi ASI antara lain adalah:
a.     Makanan Ibu
Unsur gizi dalam 1 liter ASI setara dengan unsur gizi yang terdapat dalam 2 piring nasi ditambah 1 butir telur. Jadi diperlukan kalori yang setara dengan jumlah kalori yang diberikan 1 piring nasi untuk membuat 1 liter ASI. Agar Ibu menghasilkan 1 liter ASI diperlukan makanan tamabahan disamping untuk keperluan dirinya sendiri, yaitu setara dengan 3 piring nasi dan 1 butir telur.
Apabila ibu yang sedang menyusui bayinya tidak mendapat tambahan makanan, maka akan terjadi kemunduran dalam pembuatan ASI. Terlebih jika pada masa kehamilan ibu juga mengalami kekurangan gizi. Karena itu tambahan makanan bagi seorang ibu yang sedang menyusui anaknya mutlak diperlukan. Dan walaupun tidak jelas pengaruh jumlah air minum dalam jumlah yang cukup. Dianjurkan disamping bahan makanan sumber protein seperti ikan, telur dan kacang-kacangan, bahan makanan sumber vitamin juga diperlukan untuk menjamin kadar berbagai vitamin dalam ASI.
b.      Ketentraman Jiwa dan Pikiran
Pembuahan air susu ibu sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan. Ibu yang selalu dalam keadaan gelisah, kurang percaya diri, rasa tertekan dan berbagai bentuk ketegangan emosional, mungkin akan gagal dalam menyusui bayinya.
Pada ibu ada 2 macam, reflek yang menentukan keberhasilan dalam menyusui bayinya, reflek tersebut adalah:
1.         Reflek Prolaktin
Reflek ini secara hormonal untuk memproduksi ASI. Waktu bayi menghisap payudara ibu, terjadi rangsangan neorohormonal pada putting susu dan aerola ibu. Rangsangan ini diteruskan ke hypophyse melalui nervus vagus, terus kelobus anterior. Dari lobus ini akan mengeluarkan hormon prolaktin, masuk ke peredaran darah dan sampai pada kelenjar –kelenjar pembuat ASI. Kelenjar ini akan terangsang untuk menghasilkan ASI.
2.         Let-down Refleks (Refleks Milk Ejection)
Refleks ini membuat memancarkan ASI keluar. Bila bayi didekatkan pada payudara ibu, maka bayi akan memutar kepalanya kearah payudara ibu. Refleks memutarnya kepala bayi ke payudara ibu disebut :”rooting reflex (reflex menoleh). Bayi secara otomatis menghisap putting susu ibu dengan bantuan lidahnya.
c.       Pengaruh persalinan dan klinik bersalin
Banyak ahli mengemukakan adanya pengaruh yang kurang baik terhadap kebiasaan memberikan ASI pada ibu-ibu yang melahirkan di rumah sakit atau klinik bersalin lebih menitik beratkan upaya agar persalinan dapat berlangsung dengan baik, ibu dan anak berada dalam keadaan selamat dan sehat. Masalah pemberian ASI kurang mendapat perhatian. Sering makanan pertama yang diberikan justru susu buatan atau susu sapi. Hal ini memberikan kesan yang tidak mendidik pada ibu, dan ibu selalu beranggapan bahwa susu sapi lebih dari ASI. Pengaruh itu akan semakin buruk apabila disekeliling kamar bersalin dipasang gambar-gambar atau poster yang memuji penggunaan susu buatan.
d.    Penggunaan alat kontrasepsi yang mengandung estrogen dan progesteron.
Bagi ibu yang dalam masa menyusui tidak dianjurkan menggunakan kontrasepsi pil yang mengandung hormon estrogen, karena hal ini dapat mengurangi jumlah produksi ASI bahkan dapat menghentikan produksi ASI secara keseluruhan oleh karena itu alat kontrasepsi yang paling tepat digunakan adalah alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) yaitu IUD atau spiral.
e.     Perawatan Payudara
Perawatan fisik payudara menjelang masa laktasi perlu dilakukan, yaitu dengan mengurut payudara selama 6 minggu terakhir masa kehamilan. Pengurutan tersebut diharapkan apablia terdapat penyumbatan pada duktus laktiferus dapat dihindarkan sehingga pada waktunya ASI akan keluar dengan lancar.

3.       Peran Pemerintah dalam Gerakan Pemberian ASI Eksklusif

Salah satu upaya signifikan yang telah dilakukan oleh pemerintah saat ini adalah mengeluarkan PP No. 33 tahun 2012 mengenai Pemberian ASI Eksklusif. Melalui PP ini, pemerintah pemerintah memformalkan hak perempuan untuk menyusui (termasuk di tempat kerja) dan melarang promosi pengganti ASI. Dengan demikian, pemerintah telah menunjukkan fokusnya dalam hal peningkatan alokasi keuangan, kebijakan yang lebih terkoordinasi, dan memperkuat keahlian teknis untuk meningkatkan gizi anak bersama dengan mitra internasional di antaranya Uni Eropa dan Bank Dunia.
4.       Upaya Pemerintah untuk meningkatkan ASI Eksklusif dianggap Belum Cukup
Upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah guna meningkatkan pemberian ASI Eksklusif menurut kami belum, karena pada kenyataannya PPNo. 33 tahun 2012 yang telah dibuat belum sepenuhnya dapat terlaksana.  Ketua Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, dr. Tirta Prawita Sari, MSc, SpGK pada peringatan Pesan ASI Sedunia menyatakan pada pers bahwa jatah cuti melahirkan bagi wanita pekerja sesuai dengan UU Tenaga Kerja No. 13/2003 adalah 3 bulan, sehingga tidak cukup waktu bagi ibu untuk memberikan ASI Eksklusif. Hanya sedikit institusi yang memberikan cuti menyusui bagi pekerja wanitanya. Ibu-ibu pekerja yang kebanyakan berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah pada akhirnya akan memilih bekerja dibandingkan dengan menyusui bayinya secara eksklusif.
Hal ini berbeda dengan kebijakan di beberapa negara maju. Australia memberikan jatah ijin cuti maksimal 52 minggu bagi ibu menyusui. Di Inggris, ibu menyusui diberi jatah cuti 39 minggu dengan tetap menerima gaji. Di Brasil seorang ibu diberi waktu 2,5 jam per hari untuk menyusui bayinya selama 6 bulan. Di Swedia, ibu diberi jatah cuti selama 18 bulan untuk merawat bayinya, sedangkan di Republik Ceko cuti ini diberikan selama 7 bulan (28 minggu).
Jika regulasi mengenai cuti menyusui ini sudah ditetapkan agar mendukung ASI Eksklusif, diharapkan dalam jangka panjang Indonesia akan berpeluang menghasilkan generasi penerus yang lebih tangguh dan berkualitas. Namun tentu saja pendekatan yang perlu dilakukan tidak cukup hanya dari regulasi. Perlu aksi nyata dari pemerintah untuk melaksanakan regulasi tersebut.
5.        Upaya yang Dilakukan Sarjana Kesehatan Masyarakat Jika Menjadi Kepala Puskesmas Untuk Meningkatkan Pemberian ASI Eksklusif

a.    Melakukan kegiatan Pemberdayaan Bidan di Desa, Petugas Puskesmas dan Kader. Pemberdayaan bidan di desa dan kader dapat dilakukan melalui pelatihan guna meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam menyebarluaskan PP-ASI.
b.    Melakukan penyuluhan yang tepat dan efektif sesuai hasil pemantauan yang ada pada masyarakat.  Upaya tersebut antara lain dapat dilakukan melalui:
-       pengamatan situasi/latar belakang masalah sosial budaya setempat
-       cara/teknik pelatihan menggunakan cara belajar orang dewasa, a.l. menggali informasi dari para peserta pelatihan tentang masalah pemberian ASI yang mereka ketahui dilapangan
-      persamaan persepsi tentang cara menyusui yang baik dan benar, pentingnya kolostrum bagi kesehatan bayi dan bahayanya memberikan makanan pralakteal bagi bayi
-      persamaan persepsi tentang indikator dan pemantauan ASI Eksklusif
-      tanya jawab 

DAFTAR PUSTAKA


Depkes RI. Pedoman Pemberian MP-ASI, Jakarta. 1992

Depkes RI, Petunjujk Pelaksanaan Peningkatan ASI Ekslusif. Jakarta. 1997

Depkes RI, manajemen Laktasi. Jakarta. 1994

Siregar, Muhammad Arifin, 20 April 2010, Pemberian ASI Eksklusif dan Faktor – faktor yang Mempengaruhinya, www.google.com,http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-arifin4.pdf ,di akses Tanggal 03 Desember 2012.



 

BLOG Materi Kuliah Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos